Masjid Agung Banten, sebuah bangunan bersejarah yang menakjubkan, merupakan sebuah contoh nyata perpaduan budaya yang menarik. Pembangunan masjid yang dilaksanakan pada masa pemerintahan Sultan Hasanudin melibatkan tiga arsitek berbeda dari berbagai bangsa. Saat ini, masjid bersejarah ini masuk dalam kategori bangunan cagar budaya yang dilindungi.
Terletak di Kecamatan Kasemen, daerah Banten Lama, Masjid Agung Banten berjarak sekitar 10 km di sebelah utara Kota Serang. Perjalanan menuju tempat ini dapat ditempuh dalam waktu kurang lebih empat jam dari Jakarta melalui Tol Jakarta-Tangerang-Merak.
Konon, masjid ini diarsiteki oleh Raden Sepat dari Kerajaan Majapahit, yang juga menjadi arsitek Masjid Agung Sang Cipta Rasa Kasepuhan Cirebon, yang dikenal juga sebagai Masjid Agung Kasepuhan atau Masjid Agung Cirebon. Selain Raden Sepat, seorang arsitek berdarah Tionghoa bernama Tjek Ban Tjut juga terlibat dalam pembangunan masjid ini. Atas bantuannya dalam proyek ini, Kesultanan Banten menganugerahi Tjek Ban Tjut dengan gelar Pangeran Adiguna.
Bangunan Masjid Agung Banten memiliki luas sekitar 1 hektare, sementara luas total kompleksnya kurang lebih 2 hektare. Arsitektur masjid tua ini memadukan unsur budaya Jawa Kuno dan Tiongkok yang terlihat dari serambi yang lapang dan atap yang bertingkat. Atap masjid ini memiliki 5 tingkatan dengan bentuk yang menyerupai pagoda China.
Serambi utama masjid memiliki 24 tiang sebagai penyangga. Di sisi kiri masjid, terdapat kompleks makam sultan dan keluarga kerajaan. Di kompleks makam tersebut, terdapat makam Sultan Ageng Tirtayasa.
Bagian dalam masjid berbentuk bujur sangkar dengan tiang utama (saka guru) yang disangga oleh umpak yang terbuat dari batu andesit dengan motif buah labu. Terdapat mimbar yang terbuat dari kayu dengan tangga marmer. Di sisi depan dan samping, terdapat 5 pintu, merujuk pada 5 rukun Islam.
Di sisi timur masjid, terdapat menara setinggi 24 meter dengan diameter 10 meter yang terbuat dari batu bata. Menara ini dibangun oleh seorang Belanda bernama Hendrik Lucaszoon Cardeel pada tahun 1629 atas perintah Sultan Haji. Puncak menara dapat dicapai dengan menaiki 83 anak tangga, dan lorong di dalam menara ini hanya muat dilewati satu orang.
Selain berfungsi sebagai tempat bilal mengumandangkan azan, menara ini juga digunakan sebagai tempat penyimpanan senjata dan sebagai menara pengawas selama masa peperangan. Dari Masjid Agung Banten, pemandangan laut dapat terlihat karena jaraknya hanya 1,5 km.
Hendrik Lucaszoon Cardeel juga membangun tiyamah yang terletak di sisi selatan masjid. Bangunan ini digunakan sebagai tempat musyawarah dan kajian keagamaan.
Saat ini, Masjid Agung Banten menjadi kebanggaan masyarakat Banten. Sebagai cagar budaya, masjid ini selalu dikunjungi oleh pengunjung, terutama orang-orang yang berziarah ke makam para sultan dan ulama Banten yang dikuburkan di Kompleks Masjid Agung Banten.