Nasi memang menjadi makanan pokok bagi sebagian besar masyarakat Nusantara. Namun, di beberapa wilayah Indonesia lainnya, nasi bukanlah sumber energi utama. Salah satu contohnya adalah destinasi Pariwisata Indonesia di Papua Barat, dimana makanan primadona bukanlah nasi, melainkan sagu.
Sagu merupakan jenis tepung yang diperoleh dari olahan teras batang pohon rumbia (Metroxylon sagu). Pohon rumbia, yang dapat mencapai tinggi 20 hingga 30 meter, termasuk dalam keluarga palem-paleman atau pisang-pisangan. Karena membutuhkan banyak air untuk tumbuh, pohon rumbia biasanya ditemukan di daerah rawa air tawar, aliran sungai, atau lahan basah lainnya.
Pohon rumbia memiliki banyak manfaat. Misalnya, daun rumbia kering digunakan untuk atap rumah, buah rumbia dapat dikonsumsi, pohonnya dapat menyerap karbon dioksida, dan sari patinya dapat diolah menjadi sagu.
Semakin panjang dan berat batang pohon rumbia, semakin banyak tepung sagu yang dihasilkan. Satu pohon rumbia dapat menghasilkan sekitar 150 hingga 300 kg tepung sagu. Menariknya, Indonesia merupakan negara penghasil sagu terbesar di dunia.
Sagu memiliki banyak manfaat yang belum diketahui oleh banyak orang. Selain sebagai sumber karbohidrat, sagu juga diketahui dapat mengatasi pengerasan pembuluh darah, sakit pada ulu hati, serta masalah perut kembung. Selain itu, sagu juga aman dikonsumsi oleh penderita diabetes dan dapat meningkatkan kekebalan tubuh serta mengurangi risiko kegemukan, kanker usus, dan kanker paru-paru. Manfaatnya sungguh banyak, bukan?
Di Papua, sagu memiliki posisi penting dan dihormati karena menjadi sumber energi dan makanan pokok. Beberapa masyarakat adat bahkan mempercayai bahwa sagu merupakan penjelmaan manusia. Beberapa suku juga memiliki nama khusus untuk sagu, seperti Suku Yaur yang menyebutnya Moore dan Suku Moi yang menyebutnya Hi.
Sebagai makanan pokok, terdapat beragam olahan kuliner sagu di Provinsi Papua Barat. Salah satunya adalah Papeda, juga dikenal sebagai bubur sagu. Sesuai dengan namanya, kuliner ini memiliki tekstur lunak dan lengket seperti lem.
Proses pembuatan Papeda sebenarnya terlihat sederhana. Cukup menambahkan air panas ke dalam tepung sagu, kemudian mengaduknya hingga menghasilkan tekstur yang lengket. Namun, dalam praktiknya, diperlukan ketelitian yang tinggi. Jika air yang digunakan tidak cukup panas, Papeda dapat gagal. Selain itu, proses mengaduknya juga membutuhkan keterampilan khusus dengan menggunakan dua batang bambu yang dibentuk menyerupai sumpit.
Papeda memiliki rasa tawar, dan biasanya disajikan dengan ikan kuah kuning. Ikan tongkol sering digunakan, tetapi ikan lain seperti kakap merah atau ikan kue juga bisa menjadi pendamping Papeda.
Bagi masyarakat Papua Barat, Papeda memiliki nilai sakral dan sering dihidangkan dalam berbagai upacara adat, mulai dari kelahiran hingga kematian.
Pada tahun 2015, Papeda diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia dari Provinsi Papua Barat. Jadi, jika Anda mengunjungi destinasi Pariwisata Indonesia di provinsi ini, jangan lupa mencicipi Papeda yang istimewa ini.